BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Pelaksanaan pendidikan agama merupakan kurikulum wajib yang harus dilaksanakan pada setiap satuan pendidikan sebagaimana termuat dalam UU Sisdiknas tahun 2007 pasal 37. Dalam pasal tersebut dinyatakan bahwa kuri- kulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat pendidik-an agama. Beban kurikulum yang ditegaskan dalam pendidikan agama tidak hanya ber- orientasi pada materi pelajaran dalam pengertian teoretis secara verbal, me- lainkan juga dalam pengertian praktis, yaitu peserta didik meng-alami proses perubahan terhadap perilaku sehingga pendidikan agama yang diberikan pada peserta didik dapat meningkatkan potensi spiritual.
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) diharapkan menghasil- kan manusia yang selalu berupaya menyempurnakan iman, bertakwa, dan berakhlak mulia, serta aktif membangun peradaban dan keharmonisan ke- hidupan, khususnya dalam memajukan peradaban bangsa yang bermartabat. Manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia diharapkan tangguh dalam menghadapi tantangan, hambatan, dan perubahan yang muncul dalam pergaulan masyarakat baik dalam lingkup lokal, nasional, regional, maupun global.
Karena pentingnya pembelajaran PAI pada jenjang pendidikan di SMA, maka SMA-SMA swasta yang di kelola oleh yayasan, biasanya merancang kuri- kulum PAI sesuai dengan visi dan misi yayasan. Meskipun demikian beberapa SMA yang bernaung pada yayasan non keagamaan menggunakan kurikulum PAI dari Depdiknas. Kurikulum PAI yang dirancang yayasan bia-sanya memi- liki jumlah jam pelajaran yang lebih banyak dan mata pelajaran PAI biasanya dipecah-pecah menjadi mata pelajaran Aqidah, Akhlaq, Quran/Hadist, Fiq- ih, dan Tarikh/SKI. Sementara pada kurikulum Depdiknas Aqidah, Akhlaq, Quran/Hadist, Fiqih, dan Tarikh/SKI termauat dalam satu kesa-tuan mata pelajaran PAI.
Implementasi kurikulum PAI di sekolah akan memberikan dampak ter- hadap perilaku keagamaan peserta didik. Perilaku keagamaan tersebut dapat berupa perilaku yang berkaitan dengan Aqidah, Akhlaq, Quran/Hadist, Fiqih, dan Tarikh/SKI. Namun demikian, implementasi kurikulum di sekolah yang dirancang oleh yayasan dan Depdiknas belum secara jelas dikaji seberapa jauh perbedaanya. Sementara implementasi kurikulum PAI keberhasilannya sulit diukur hanya dengan menggunakan angka atau skor. Di lain pihak hasil pembelajaran PAI terhadap perilaku keagamaan masih dipertanyakan.
Rumusan Masalah
Dari pemaparan latar belakang diatas, maka rumusan masalah pada makalah ini adalah :
Apa pengertian pembelajaran pendidikan agama islam ?
Apa materi pendidikan agama islam ?
Apa komponen dalam pembelajaran pendidikan agama islam ?
Apa tujuan dan fungsi dari pembelajaran pendidikan islam ?
Tujuan Masalah
Dari rumusan masalah diatas maka, tujuan masalah pada makalah ini, adalah :
Untuk mengetahui pengertian pembelajaran pendidikan agama islam
Untuk mengetahui materi pendidikan agama islam
Untuk mengetahui komponen dalam pembelajaran pendidikan agama islam
Untuk mengetahui tujuan dan fungsi dari pembelajaran pendidikan islam
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Pembelajaran menurut Oemar Hamalik mendefinisikan pembelajaran sebagai suatu kombinasi yang tersusun, meliputi unsur-unsur manusiawi, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Pada hakekatnya pembelajaran terkait dengan bagaimana membelajarkan peserta didik atau bagaimana membuat peserta didik dapat belajar dengan mudah dan terdorong oleh kemampuannya sendiri untuk mempelajari apa yang teraktualisasikan dalam kurikulum sebagai kebutuhan peserta didik.
Adapun pengertian Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar yang dilakukan pendidik dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk menyakini, memahami dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Zuhairimi mengartikan Pendidikan Agama Islam sebagai asuhan-asuhan secara sistematis dalam membentuk anak didik supaya mereka hidup sesuai dengan ajaran Islam.
Sedangkan Zakiyah Drajat dalam bukunya ilmu pengetahuan Pendidikan Agama Islam menyatakan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama serta menjadikannya sebagai pedoman sebagai pandangan hidup.
Dengan demikian pembelajaran Pendidikan Agama Islam dapat diartikan sebagai upaya membuat peserta didik dapat belajar, terdorong belajar, mau belajar dan tertarik untuk terus menerus mempelajari Agama Islam secara menyeluruh yang mengakibatkan beberapa perubahan yang relatif tetap dalam tingkah laku seseorang baik dalam kognitif, efektif dan psikomotorik.
Dari pengertian tersebut terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran pendidikan agama Islam, yaitu:
Pendidikan agama Islam sebagai usaha, yakni suatu kegiatan bimbingan pengajaran dan latihan yang dilakukan secara berencana dan sadar untuk mencapai suatu tujuan.
Peserta didik dibimbing, diajari dan dilatih dalam meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengalaman terhadap ajaran agama Islam.
Dengan demikian kata lain bimbingan menjadi muslim yang tangguh dan mampu merealisasikan ajaran Pendidikan Agama Islam dalam kehidupan sehari- hari sehingga menjadi insan kamil. Untuk itu penanaman Pembelajaran Pendidikan Agama Islam sangat penting dalam membentuk dan mendasari anak sejak dini. Dengan penanaman Pembelajaran Pendidikan Agama Islam sejak dini diharapkan mampu membentuk pribadi yang kokoh, kuat dan mandiri untuk berpedoman pada Agama Islam.
Materi Pendidikan Agama Islam di SMA
Materi merupakan alat untuk mencapai tujuan, oleh karena itu penentuan materi harus didasarkan pada tujuan yang direncanakan baik dari segi cakupan, tingkat kesulitan maupun organisasinya.
Menurut Abdul Ghofur, Materi Pendidikan Islam adalah bahan-bahan Pendidikan Agama Islam yang berupa kegiatan, pengalaman dan pengetahuan yang disengaja dan sistematis diberikan kepada anak didik dalam rangka menacapai tujuan Pendidikan Agama Islam.
Undang-undang republik indonesia No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dan peraturan pemerintah republik indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan tersusunnya kurikulum pada tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah dengan mengacu kepada standar isi dan standar kompetensi lulusan serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
Kurikulum tingkat satuan pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Dengan munculnya berbagai perubahan yang sangat cepat pada hampir semua aspek dan berkembangan paradigma baru dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat, di awal millenium ketiga ini telah dikembangkan kurikulum Pendidikan Agama Islam SMA secara nasional, yaitu kurikulum yang ditandai dengan ciri-ciri, antara lain:
Lebih menitik beratkan pencapaian target kompetensi (attainment targets) dari pada penguasaan materi.
Lebih mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia.
Memberikan kebebasan yang lebih luas kepada pelaksana pendidikan di lapangan untuk mengembangkan dan melaksanakan program.
Pembelajaran sesuai dengan kebutuhan. Walaupun kurikulum KTSP ini lebih global dibanding kurikulum 1994, model ini diharapkan lebih membantu guru karena dilengkapi dengan pencapaian target yang jelas, materi pokok, standar hasil belajar siswa, dan prosedur pelaksanaan pembelajaran. Meskipun demikian, keadaan sumber daya pendidikan di Indonesia sangat memungkinkan munculnya keragaman pemahaman terhadap standar nasioanl, yang dampaknya akan mempengaruhi pencapaian standar nasional kompetensi dasar yang telah ditetapkan. Untuk itu perlu adanya penjabaran tentang kurikulum yang berbasis pada kompetensi dasar yang diharapkan dapat lebih menjamin tercapaianya kompetensi dasar nasional mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Pengertian
Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani, bertaqwa, dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al Quran dan Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman. Dibarengi tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubunganya dengan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.
Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam itu keseluruhannya terliput dalam lingkup: Al Qur’an dan Hadits, Keimanan, Akhlak, dan Fiqh/Ibadah. Sekaligus menggambarkan bahwa ruang lingkup Pendidikan Agama Islam mencakup perwujudan keserasian, dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya maupun lingkungannya (Hablun minallah wa hablun minannas).
Fungsi dan Tujuan
Fungsi pendidikan agama islam di SMA, untuk :
Pengembangan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT serta akhlak mulia peserta didik seoptimal mungkin, yang telah ditanamkan lebih dahulu dalam lingkungan keluarga.
Penanaman nilai ajaran Islam sebagai pedoman mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Penyesuaian mental peserta didik terhadap lingkungan fisik dan sosial melalui pendidikan agama Islam
Perbaikan kesalahan-kesalahan, kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pengamalan ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari
Pencegahan peserta didik dari hal-hal negatif budaya asing yang akan di hadapinya sehari-hari
Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum (alam nyata dan nir-nyata), sistem dan fungsionalnya
Penyaluran siswa untuk mendalami pendidikan agama ke lembaga pendidikan yang lebih tinggi.
Tujuan Pendidikan Agama Islam di SMA, yaitu:
Pendidikan Agama Islam di SMA bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan, melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaannya kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Ruang Lingkup
Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam meliputi keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara:
Hubungan manusia dengan Allah SWT.
Hubungan manusia sesama manusia, dan
Hubungan manusia dengan makhluk lain (selain manusia) dan lingkungan.
Adapun ruang lingkup bahan pelajaran Pendidikan Agama Islam Sekolah Menengah Atas berfokus pada aspek:
Al Qur’an/ Al Hadits
Keimanan
Syari’ah
Akhlak
Tarikh
Standar Kompetensi Bahan Ujian
Kompetensi Bahan Kajian Pendidikan Agama Islam
Siswa beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; berakhlaq mulia/berbudi pekerti luhur yang tercermin dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara; memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agamanya; serta mampu menghormati agama lain dalam kerangka kerukunan antar umat beragama.
Kompetensi Spesifik Pendidikan Agama Islam
Dengan landasan Al Qur’an dan Sunnah Nabi SAW. Siswa beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, berakhlaq mulia/berbudi pekerti luhur yang tercermin dalam perilaku sehari-hari dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia, dan alam sekitar; mampu membaca dan memahami Al Qur’an mampu beribadah dan bermuamalah dengan baik dan benar serta mampu menjaga kerukunan intern dan antar umat beragama.
Standar Kompetensi Dasar Mata Pelajaran
Kompetensi dasar mata pelajaran berisi sekumpulan kemampuan minimal yang harus dikuasai siswa selama menempuh pendidikan di SMA. Kompetensi ini berorientasi pada perilaku afektif dan psikomotorik dengan dukungan pengetahuan kognitif dalam rangka memperkuat keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan ajaran Islam.
Kemampuan-kemampuan yang tercantum dalam komponen Kemampuan Dasar ini merupakan penjabaran dari kemampuan dasar umum yang harus dicapai di SMA, yaitu:
Beriman kepada Allah SWT dan lima rukun iman yang lain dengan mengetahui fungsi dan hikmahnya serta terefleksi dalam sikap, perilaku, dan akhlak peserta didik dalam dimensi vertikal maupun horizontal.
Dapat membaca, menulis, dan memahami ayat-ayat Al Qur’an serta mengetahui hukum bacaannya dan mampu mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Mampu beribadah dengan baik sesuai dengan tuntunan syari’at Islam baik ibadah wajib maupun ibadah Sunnah.
Dapat meneladani sifat, sikap, dan kepribadian Rasulullah, sahabat, dan tabi’in serta mampu mengambil hikmah dari sejarah perkembangan Islam untuk kepentingan hidup sehari-hari, masa kini dan masa depan.
Mampu mengamalkan sistem mu’amalat Islam dalam tata kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Seperti tergambar dalam kemampuan dasar umum di atas, kemampuan dasar tiap kelas yang tercantum dalam Standar Nasional juga dikelompokkan ke dalam lima aspek mata pelajaran Pendidikan Agama Islam SMA, yaitu: Al Qur’an, Keimanan, Akhlak, Fiqih/Ibadah, dan Tarikh. Berdasarkan pengelompokan per-aspek, kemampuan dasar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam SMA adalah sebagai berikut:
Al Qur’an/ Hadits
Membaca Al Qur’an dengan fasih (tadarrus) (Dilaksanakan pada setiap awal jam pelajaran Pendidikan Agama selama 5-10 menit).
Membaca dan faham ayat-ayat tentang manusia dan tugasnya sebagai makhluk serta mampu menerapkannya dalam perilaku sehari-hari.
Membaca dan faham ayat-ayat tentang prinsip-prinsip beribadah serta mampu menerapkannya dalam perilaku sehari-hari.
Membaca dan faham ayat-ayat tentang demokrasi serta mampu menerapkannya dalam perilaku sehari-hari.
Membaca dan memahami ayat-ayat tentang kompetisi serta mampu menerapkannya dalam perilaku sehari-hari.
Membaca dan memahami ayat-ayat tentang perintah menyantuni kaum lemah serta mampu menerapkannya dalam perilaku sehari-hari.
Membaca dan memahami ayat-ayat tentang perintah menjaga kelestarian lingkungan hidup serta mampu menerapkannya dalam perilaku sehari-hari.
Membaca dan memahami ayat-ayat tentang anjuran bertoleransi serta mampu menerapkannya dalam perilaku sehari-hari.
Membaca dan memahami ayat-ayat tentang etos kerja serta mampu menerapkannya dalam perilaku sehari-hari.
Membaca dan memahami ayat-ayat yang berisi dorongan untuk mengembangkan IPTEK serta mampu menerapkannya dalam perilaku sehari-hari.
Keimanan
Beriman kepada Allah dan menghayati sifat-sifat-Nya.
Beriman kepada malaikat dan memahami fungsinya serta mampu menerapkan dalam perilaku sehari-hari.
Beriman kepada rasul-rasul Allah dan memahami fungsinya serta mampu menerapkan dalam perilaku sehari-hari.
Beriman kepada kitab-kitab Allah dan memahami fungsinya serta mampu menerapkan dalam perilaku sehari-hari.
Beriman kepada hari akhir dan memahami fungsinya serta mampu menerapkan dalam perilaku sehari-hari.
Beriman kepada qadha dan qadar dan memahami fungsinya serta mampu menerapkan dalam perilaku sehari-hari.
Syariah
Memahami sumber-sumber hukum Islam dan pembagiannya.
Memahami hikmah shalat dan mampu menerapkannya dalam perilaku sehari-hari.
Memahami hikmah puasa dan mampu menerapkannya dalam perilaku sehari-hari.
Memahami hukum Islam tentang zakat secara lebih mendalam dan hikmahnya serta mampu menerapkannya dalam perilaku sehari-hari.
Memahami hikmah haji dan umrah serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Memahami hukum Islam tentang wakaf dan hikmahnya serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Memahami hukum Islam tentang jual beli dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Memahami hukum Islam tentang riba dan mampu menghindarinya dalam kehidupan sehari-hari.
Memahami hukum Islam tentang kerja sama ekonomi dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Memahami ketentuan hukum penyelenggaraan jenazah dan mampu mempraktekkannya.
Memahami hukum Islam tentang jinayat dan hudud dan mampu menghindari kejahatan dalam kehidupan sehari-hari.
Memahami ketentuan tentang khutbah dan dakwah serta mampu mempraktekkannya.
Memahami hukum Islam tentang mawaris dan hikmahnya serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Memahami hukum Islam tentang pernikahan dan hikmahnya serta mampu menerapkan-nya dalam kehidupan sehari-hari.
Akhlak
Terbiasa dengan perilaku dengan sifat-sifat terpuji.
Terbiasa menghindari sifat-sifat tercela.
Terbiasa bertata krama.
Tarikh
Memahami perkembangan Islam pada masa Umayyah dan mampu menerapkan manfaatnya dalam perilaku seharihari.
Memahami perkembangan Islam pada masa Abbasiyah dan mampu menerapkan manfaatnya dalam perilaku sehari-hari.
Memahami perkembangan Islam pada abad pertengahan dan mampu menerapkan manfaatnya dalam perilaku sehari-hari.
Memahami perkembangan Islam pada masa pembaharuan dan mampu menerapkan manfaatnya dalam perilaku sehari-hari.
Memahami perkembangan Islam di Indonesia dan mampu menerapkan manfaatnya dalam perilaku sehari-hari.
Memahami perkembangan Islam di dunia dan mampu menerapkan manfaatnya dalam perilaku sehari-hari.
Rambu-rambu
Pendekatan Pembelajaran dan Penilaian.
Pendekatan dalam pendidikan islam meliputi:
Keimanan, memberikan peluang kepada peserta didik untuk mengembangkan pemahaman adanya Tuhan sebagai sumber kehidupan makhluk sejagat ini
Pengamalan, memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperaktekkan dan merasakan hasil-hasil pengamalan ibadah dan akhlak dalam menghadapi tugas-tugas dan masalah dalam kehidupan
Pembiasaan, memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membiasakan sikap dan prilaku baik yang sesuai dengan ajaran Islam dan budaya bangsa dalam menghadapi masalah kehidupan
Rasional, usaha memberikan peranan pada rasio (akal) peserta didik dalam memahami dan membedakan berbagai bahan ajar dalam materi pokok serta kaitannya dengan perilaku yang baik dengan prilaku yang buruk dalam kehidupan duniawi
Emosional, upaya menggugah perasaan (emosi) peserta didik dalam menghayati perilaku yang sesuai dengan ajaran agama dan budaya bangsa
Fungsional, menyajikan bentuk semua materi pokok (Al Quran, Keimanan, Ibadah/Fiqih, Akhlak), dari segi manfaatnya bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari dalam arti luas
Keteladanan, yaitu menjadikan figur guru agama dan non- agama serta petugas sekolah lainnya maupun orang tua peserta didik, sebagai cermin manusia berkepribadian agama.
Penilaian dalam pendidikan islam
Penilaian dilakukan terhadap hasil belajar siswa berupa kompetensi sebagaimana yang tercantum dalam KBM setiap mata pelajaran. Disamping mengukur hasil belajar siswa sesuai dengan ketentuan kompetensi setiap mata pelajaran di masing-masing kelas dalam kurikulum nasional, penilaian juga dilakukan untuk mengetahui kedudukan atau posisi siswa dalam level kompetensi yang ditetapkan secara nasional.
Penilaian berbasis kelas harus memperlihatkan tiga ranah, yaitu: pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotorik). Ketiga ranah ini sebaiknya dinilai proporsional sesuai dengan sifat atau karakteristik mata pelajaran yang bersangkutan. Sebagai contoh pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, penilaiannya harus menyeluruh pada segenap aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan dengan mempertimbangkan tingkat perkembangan siswa serta bobot setiap aspek dari setiap kompetensi dan materi.
Misalnya pengetahuan (kognitif) meliputi seluruh materi pembelajaran (Al Quran, Keimanan, Akhlak, Ibadah, dan Tarikh). Aspek sikap (afektif) sangat dominan, khususnya pada aspek penanaman nilai-nilai akhlak. Sedangkan aspek keterampilan (psikomotorik) sangat dominan pada pembelajaran Al Quran dan Ibadah
Pengorganisasian materi
Pengorganisasian Materi pada hakekatnya adalah kegiatan mensiasati proses pembelajaran dengan perancangan/rekayasa terhadap unsur-unsur instrumental melalui upaya pengorganisasian yang rasaional dan menyeluruh. Kronologis pengorganisasian materi pembelajaran itu mencakup tiga tahap kegiatan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Perencanaan terdiri dari perencanaan per satuan waktu dan perencanaan per-satuan bahan ajar.
Perencanaan persatuan waktu terdiri dari program tahunan dan program semester/catur wulan. Perencanaan persatuan bahan ajar dibuat berdasarkan satu kebulatan bahan ajar yang dapat disampaikan dalam satu atau beberapa kali pertemuan. Pelaksanaan terdiri dari langkah-langkah pembelajaran di dalam atau di luar kelas, mulai dari pendahuluan, penyajian, dan penutup.
Penilaian merupakan proses yang dilakukan terus menerus sejak perencanaan, pelaksanaan, dan setelah pelaksanaan pembelajaran per pertemuan, satuan bahan ajar, maupun satuan waktu. Dalam proses perancangan dan pelaksanaan pembelajaran hendaknya diikuti langkah-langkah strategis sesuai dengan prinsip didaktik, antara lain:
Dari mudah ke sulit
Dari sederhana ke kompleks
Dari kongkrit ke abstrak
Pemanfaatan Teknologi Komunikasi dan Informasi.
Teknologi dan Komunikasi diperlukan dalam mewujudkan kreatifitas dan keterampilan agar hasil pembelajaran siswa dapat diketahui oleh siswa lain atau orang lain dan pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah untuk mendapatkan informasi- informasi terbaru dalam rangka mencari gagasan untuk perancangan dan pembuatan benda-benda keterampilan sebagai wujud dari kreativitas siswa. Adapun pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi yang digunakan antara lain adalah:
Melihat hasil teman dan kelas lain
Melihat pameran keterampilan.
Memamerkan hasil keterampilan di majalah dinding.
Memamerkan hasil keterampilan ketika pembagian rapot semester, akhir tahun dan awal tahun.
Mempublikasikan pada brosur sekolah, brosur khusus keterampilan.
Melihat model-model keterampilan yang bermuatan teknologi melalui internet.
Membaca qur’an
Membaca Al Quran di awal setiap pelajaran selama 5 samapai 10 menit bertujuan untuk mengoptimalkan membaca/menghafal Al Quran secara baik dan benar.
Nilai-nilai
Setiap materi yang diajarkan kepada peserta didik mengandung nilai-nilai yang terkait dengan perilaku kehidupan sehari-hari, misalnya mengajarkan materi ibadah yaitu “Wudhu”, selain keharusan menyampaikan air pada semua anggota wudhu di dalamnya juga terkandung nilai-nilai bersih. Nilai-nilai inilah yang harus ditanamkan kepada peserta didik dalam pendidikan agama (afektif)
Aspek sikap
Untuk unsur pokok akhlak misalnya, selain dikaji masalah yang bersangkutan dengan aspek pengetahuan, aspek fungsionalnya diutamakan pada aspek sikap, sehingga kelak siswa mampu bersikap sebagai seorang muslim yang berakhlak mulia. Dan untuk mencapai tujuan tersebut unsur akhlak juga didukung oleh cerita-cerita Rasul yang berkaitan dengan sifat-sifat keteladanannya (uswatun hasanah).
Ekstrakulikuler
Kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam dapat mendukung kegiatan intrakurikuler, misalnya melaui kegiatan pesantren kilat, imtaq Ramadhan, peringatan hari-hari besar Islam, bakti sosial, shalat Jum’at, tahun baru Islam, lomba baca tulis Al Quran (BTA), dan lain-lain.
Keterpaduan
Pola pembinaan Pendidikan Agama Islam dikembangkan dengan menekankan keterpaduan antara tiga lingkungan pendidikan yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Untuk itu guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) perlu mendorong dan memantau kegiatan pendidikan agama Islam yang dialamai oleh siswanya di dua lingkungan lainnya (keluarga dan masyarakat), sehingga terwujud keselarasan dan kesesuaian sikap serta perilaku dalam pembinaannya.
Komponen Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA
Suatu proses belajar mengajar dapat berjalan efektif apabila seluruh komponen yang berpengaruh dalam proses belajar mengajar saling mendukung dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran sebagai suatu sistem, tentu saja kegiatan belajar mengajar khususnya Pendidikan Agama Islam mendukung sejumlah komponen dan berpengaruh terhadap proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam, hal ini meliputi: tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, alat, metode, sumber belajar, evaluasi.
Dalam proses belajar mengajar Pendidikan Agama Islam selalu ditekankan pada interaksi antara guru dan murid yang harus diikuti oleh tujuan pendidikan agama. Usaha guru dalam murid untuk mencapai tujuan adalah guru harus memiliki bahan yang sesuai, kemudian memilih menetapkan metode dan sarana yang paling tepat dan sesuai dalam penyampaian bahan dengan mempertimbangkan faktor-faktor situasional kemudian melaksanakan evaluasi sehingga dapat memperlancar pembelajaran
Pendidikan Agama Islam.
Fungsi dan Tujuan Pembelajaran Pendidikan Islam di SMA
Fungsi Pembelajaran pendidikan agama islam
Diantara fungsi dilakukannya pembelajaran pendidikan agama Islam di sekolah atau madrasah khususnya di SMA adalah sebagai berikut:
Pengembangan, yakni peningkatan keimanan dan ketaqwaan peserta didik kepada Allah SWT yang telah di terapkan di lingkungan keluarga
Penanaman nilai, sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagian dunia dan akhirat
Penyesuaian mental peserta didik terhadap lingkungan fisik dan sosial melalui Pendidikan Agama Islam
Perbaikan kesalahan kelemahan peserta didik dalam kenyakinan pengalaman ajaran Islam
Tujuan pembelajaran agama islam
Menurut Ahmad D. Marimba, tujuan akhir Pendidikan Agama Islam adalah terbentuknya kepribadian muslim.65 Tujuan ini identik dengan tujuan hidup setiap muslim yakni menjadi hamba Allah yang dinyatakan dalam QS. Adz-dzariat ayat 56 dan Q.S Al-Baqarah ayat 201:
Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku
Artinya : Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka.
Sedangkan yang dimaksud dengan kepribadian muslim ialah kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya yakni baik tingkah luarnya, kegiatan- kegiatan lainnya, maupun filsafat hidupnya dan kepercayaannya mewujudkan pengabdian kepada Tuhan, penyerahan diri kepadanya.
Dengan demikian Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk menimbulkan dan meningkatkan keamanan, melalui pemberian dan pemupukan, penghayatan, pengalaman serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta untuk melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Saran
Demikianlah pemaparan makalah dari penulis,mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat dan barakah untuk semua terutama untuk mahasiswa pasca IAIN Metro yang dapat digunakan sebagai bahan ajar diperkuliahan. Tentunya makalah ini jauh dari kata sempurna, apabila ada hasil pemaparan penulis yang keliru maupun salah, penulis siap menerima kritik dan saran agar makalah ini lebih baik dikemudian hari
No comments:
Post a Comment