Monday, August 10, 2015

LANDASAN BIOLOGIS PADA BAHASA MANUSIA



BAB III
PEMBAHASAN
LANDASAN BIOLOGIS PADA BAHASA MANUSIA
1.      PERKEMBANGAN ALAT UJARAN
Kalau ditelusuri perkembangan alat ujaran (speech organs) dari jaman purbanya akan tampak bahwa manusia memang mempunyai pertumbuhan yang paling belakang dan sempurna. Penelitian para ahli purbakala menunjukkan bahwa kehidupan di dunia dimulai dari 3.000 juta tahun yang lalu (Wind 1989) dalam bentuk organisme dan uniseluler. 350 juta tahun kemudian berkembanglah makhluk semacam ikan, yakni Agnatha, yang tak berahang. Makhluk ini mempunyai mulut, taring, dan insang untuk bernafas. 50 juta tahun kemudian muncullah makhluk pemula dari amfibi yang tidak harus selamanya tinggal di air. Makhluk ini mempunyai paru-paru. Adanya paru-paru dan laring ini menunjukkan telah memulainya tumbuh jalur ujaran (vocal tracks) meskipun bunyi yang keluar barulah desah pernapasan saja. Perkembangan pada amfibi seperti katak telah memunculkan tulang-tulang arytenoid dan cricoid tetapi jalur tracheanya masih pendek. Begitu pula lidahnya telah mulai lebih mudah digerakkan.
Ketergantungan pada air menjadi lebih kecil dengan tumbuhnya reptil. Ada pertumbuhan yang mencolok pada reptil, yakni, rongga rusuk dada terlibat sangat aktif untuk pernapasan. Satu hal yang masih misterius adalah bahwa reptil (misalnya buaya) kurang banyak mengeluarkan suara amfibi (misalya katak). Pada reptil organ yang mengontrol modulasi suara adalah terutama otot dan alat-alat di laring.
Pada sekitar 70 juta tahun lalu muncullah makhluk mamalia yang pertama. Pertumbuhan biologis lainnya mulainya muncul. Bentuk awal dari epiglotis telah mulai tampak, meskipun letaknya simasih sangat dekat dengan mulut dan bagian atas tenggorokan. Tulang-tulang arytenoid dan cricoid mulai lebih berfungsi. Evolusi lain yang penting adalah mulai adanya tulang thyroid dan bentuk pertama dari selaput suara. Karena telah adanya paru-paru dan kemudian ada pula selaput suara, maka getaran selaput ini dapat mulai dikontrol. Alat pendengaran pun mulai berkembang. Alat ujar yang sudah ada seperti ini membuat mamalia (monyet, kambing, dsb) dapat mengeluarkan bunyi.
Perkembangan biologis lainnya yang terkait adalah adanya perubahan perkembangan otot-otot pada muka, tumbuhnya gigi, dan makin naiknya letak laring yang memungkinkan makhluk untuk bernafas sambil makan dan minum.
Perkembangan terakhir adalah para primat manusia. Alat-alat penyuara seperti paru-paru, laring, faring, dan mulut pada dasarnya sama dengan yang ada pada mamalia lainnya, hanya saja manusia alat-alat initelah lebih berkembang. Laring pada manusia, misalnya, agak lebih besar daripada luring pada primat lain. Struktur mulut maupun macam lidahnya juga berbeda. Akan tetapi perbedaan lain yang lebih penting antara manusia dengan binatang adalah struktur organisasi otaknya. Seperti dikatakan Wind (1986:192).
......the fact that the apes leave their vocal tract idle cannot be explained by the track’s inadequancy but reather by a lack of internal, cerebal, wiring.
Pertumbuhan alat ujaran yang digambarkan oleh Wind pada bagan berikut
Description: Foto0066.jpg
Bagan 1: Perkembangan Alat Ujaran

2.      STRUKTUR MULUT MANUSIA DAN BINATANG
Dari perkembangan makhluk seperti gambar dalam diagram pohon pada bagan 2 berikut (Lennneberg 1964:70)
Description: Foto0088.jpg
Bagan 2: Skema Evolusi Manusia
Bahwa primat paling dekat dengan manusia adalah sebangsa gorila dan simpanse. Kemiripan yang kita rasakan kalau kita pergi ke kebun binatang dan memperhatikan perilaku binatang-binatang itu – cara mereka makan kacang, cara mereka mengupas pisang, cara mereka mencari kutu, dan beberapa perilaku yang lain.
Kelompok manusia, yang dinamakan homidis atau homidae, itu sendiri juga berevolusi. Konon yang tertua (Australopithecus ramidus) ditemukan di Afrika dan hidup pada 4,5 juta tahun yang lalu. Sementara itu muncul kelompok manusia pada 3 tahun yang lalu yang baru menjadi manusia modern (homo sapiens_ sekitar 175.000 tahun yang lalu. Pertumbuhan bahasa diperkirakan sekitar 100.000 tshun ysng lslu (Acthison 1996: 52-53). Perhatikan pertumbuhan hominids berikut.
Description: Foto0071.jpg
Bagan 3: Pertumbuhan Hominids
Meskipun ada kemiripan-kemiripan tertentu antara manusia dnegan simpanse, tetap saja kedua makhluk ini berbeda dan yang membedakan keduanya adalah, antara lain, kemampuan mereka berkomunikasi dengan bahasa. Perbedaan kemampuan ini sifatnya genetik, artinya, manusia dapat berbahasa sedangkan primat lain tidak karena komposisi genetik antara kedua kelompok primat ini berbeda. Hal ini sangat tampak pada struktur biologis alat suaranya. Perhatikan struktur mulut non manusia pada bagan 4 berikut (Lieberman 1992: 410-411).
Description: Foto0074.jpg
Bagan 4 : Struktur Mulut Non-manusia
            Primat non-manusia simpanse lidah mempunyai ukuran yang tipis dan panjang tetapi semuanya ada di dalam rongga mulut. Bentuk yang seperti lebih cocok sebagai alat untuk kebutuhan non-vocal seperti meraba, menjilat, dan menelan mangsa. Secara komparatif, ruang lidah dengan ukuran mulut juga sempi sehingga tidak banyak ruang untuk menggerakkan lidah ke atas, ke bawah, ke depan, dan ke belakang. Ruang gerak yang sangat terbatas ini tidak memungkinkan binatang untuk memodofokasi arus udara menjadi bunyi yang berbeda-beda dengan distingtif. Berbeda dengan manusia, laring pada binatang seperti simpanse terletak dekat dengan jalur udara ke hidung sehingga waktu bernafas laring tadi terdorong ke atas dan menutup lubang udara ke yang ke hidung. Epiglotis dan velum pada binatang juga membentu kelep yang kedap air sehingga binatang dapat bernafas dan minum serta makan secara simultan.
Kalau kita perhatikan bentuk dan letak gigi pada primat non-manusia akan kita dapati bahwa gigi binatang merupakan deretan yang terputus-putus, ukuran panjangnya tidak sama, dan letaknya miring ke depan (Aitchison 1998: 48-49). Letak seperti ini tidak memungkinkan untuk gigi atas dan gigi bawah bertemu. Bentuk, letak, dan pengaturan seperti ini memang dicanangkan untuk kebutuhan primer primat itu, yakni mencari makan. Bibir pada binatang juga tidak fleksibel sehingga tidak bisa diatur untuk dipertemukan atau dilencengkan untuk menghasilkan bunyi atau suara yang berbeda.
Karakteristik seperti yang digambarkan di atas berbeda dengan karakteristik pada manusia. Secara proporsional rongga mulut manusia adalah lebih kecil. Ukuran ini membuat manusia dapat lebih mudah mengaturnya. Lidah manusia yang secara manusia proporsiaonal lebih tebal daripada lidah binatang dan menjorok sedikit ke tenggorokan memumgkinkan untuk digerakkan secara fleksibel sehingga bisa dinaikkan, dimundurkan, dimajukan, dimundurkan atau siratakan di tengah. Posisi yang bermacam-macam ini menghasilkan bunyi yang bermacam-macam pula, dari yang paling depan tinggi /i/ sampai ke yang paling belakang tinggi /u/, dan dari yang paling rendah depan /ᴂ/  ke yang paling rendah belakang /a/. Belum lagi kontak antara lidah dengan titik artikulasi tertentu akan menghasilkan pula bunyi konsonan yang berbeda-beda, dari yang paling depan /p/-/b/ sampai ke yang paling belakang /k/-/g/.
Karena adanya perluasan rongga otak dalam pertumbuhan manusia maka letak laring maupun epiglotis manusia semacam “terdorong” ke bawah sehingga letaknya jauh dari mulut (Ciani dan Chiarelli 1992: 51-65) bila di bandingkan dengan yang ada
Description: Foto0076.jpg
pada binatang. Di satu pihak, letak seperti ini memang memunculkan bahaya karena makanan yang masuk akan dengan mudah kesasar ke laring yang menuju ke paru-paru sehingga orang lalu bisa tersedak (choked). Akan tetapi, dari segi pembuatan suara posisi laring yang seperti ini sangat menguntungkan. Ruang yang lebih besar dan lebih panjang pada tenggorokan dapat memberikan resonasi yang lebih baik dan lebih banyak.
            Epiglotis yang letaknya jauh dari mulut dan velum membuat manusia dapat menghembuskan udara melewati mulut maupun hidung. Velum dapat digerakkan secara terpisah untuk menempel pada dinding tenggorokan sehingga udara akan terpecah keluar melalui hidung dan terciptalah bunyi oral. Sebaliknya, bila bunyi yang kita kehendaki adalah binyi nasal, velum ini tidak akan bersentuhan dengan dinding tenggorokkan sehingga udara dengan bebas dapat keluar melalui hidung.
Gigi manusia yang jaraknya rapat, tingginya rata, dan tidak miring ke depan membuat udara yang keluar dari mulut lebih dapat diatur. Begitu pula bibir manusia lebih dapat digerakkan dengan fleksibel. Bibir atas bertemu dengan bibir bawah akan menghasilkan bunyi tertentu, /m/, /p/, /b/, tetapi bila bibir bawah agak ditarik ke belakang dan menempel pada ujung gigi atas akan terciptalah bunyi lain, /f/, dan /v/.
Disamping struktur mulut, paru-paru juga dengan mudah menyesuaikan diri dengan kebutuhan. Perbapasan kita waktu berbicara, waktu diam, dan waktu menyanyi tidaklah sama. Pada waktu bicara, kita menarik napas yang panjang sehingga paru-paru menjadi besar. Udara yang kita hembuskan keluar sekaligus, tetapi secara bertahap sesuai dengan kebutuhan. Karena itu kita dapat berbicara berjam-jam, tapi kita tidak bisa berada di dalam air lebih lama dari pada lima menit.
Dengan singkat dapat dikatakan bahwa dari segi biologi alat pernapasan, manusia memang di takdirkan untuk menjadi primat yang dapat berbicara.
3.      KAITAN BIOLOGI DENGAN BAHASA
Disamping struktur mulut manusia yang secara biologis berbeda dengan struktur mulut binatang, bahasa juga terkait dengan biologi dari segi lain. Hal ini tampak pada proses pemerolehan bahasa.
            Dimanapun juga di dunia ini, anak memperoleh bahasa dnegan melalui proses yang sama. Antara umur 6 sampai 8 minggu, anak mulai mendekut (cooing), yakni mereka mengeluarkan bunyi-bunyi yang menyerupai bunyi vocal dan konsonan. Bunyi-bunyi ini belum dapat diidentifikasi sebagai bunyi apa, tetapi sudah merupakan bunyi. Pada sekitar umur 6 bulan mulailah anak dengan celoteh (babbling), yakni, mengeluarkan bunyi yang berupa sukukata. Pada umur sekitar 1 tahun, anak mulai mengeluarkan bunyi yang dapat diidentifikasi sebagai kata. Untuk bahasa yang kebanyakan monomorfemik (bersukukata satu) maka suku itu, atau sebagian dari suku, mulai diujarkan. Untuk bahasa yang kebanyakan polimorfemik, maka suku akhirlah yang diucapkan. Itu pun belum tentu lengkap. Untuk kata ikan, misalnya, anak akan mengatakan /tan/ (lihat Dardjowidjojo 2000). Kemudian anak akan mulai berujar dengan ujaran satu kata (one word utterance), lalu menjelang umur 2 tahun mulailah dengan ujaran 2 kata (two word utterance). Akhirnya, sekitar umur 4-5 tahun anak akan telah dapat berkomunikasi dengan lancar.
Untuk 18 bulan pertama, Lenneberg (1969: 13) memberikan patokan seperti terlihat pada bagan 6 berikut ini, dimana digambarkan keterkaitan antaa perkembangan biologi manusia dengan bahasa yang diperolehnya.
Description: foto0078.jpg
Description: Foto0079.jpg
Bagan 6: Kaitan Pertumbuhan Biologi dan Bahasa
            Patokan minggu, bulan, dan tahun seperti di gambarkan di atas haruslah di anggap relatif karena faktoro biologi pada manusia itu tidak semuanya sama. Yang penting dari patokan itu adalah bahwa urutan pemerolehan pada anak itu sama: dari dekutan, kecelotehan, ke ujaran satu kata, kemudian ke ujaran dua kata dan seterusnya. Begitu juga dalam hal komprehensi dan produksi. Anak dimanapun dan dalam bahasa apapun menguasai komprehensi daripada produksi.
Manusia menguasai bahasa secara natif hanya kalau prosesnya dilakukan antara umut tertentu, yakni. Antara umur 2 sampai sekitar 12 tahun. Di atas umur 12 tahun, orang tidak akan dapat menguasai aksen bahasa tersebut dengan sempurna.
Dengan fakta-fakta seperti di paparkan di atas, maka pandangan masa kini mengenai bahasa menyatakan bahwa bahasa adalah fenomena biologis, khususnya fenomena biologi perkembangan. Arah dan jadwal munculnya suatu elemen dalam bahasa adalah masalah genetik. Orang tidak dapat mempercepat atau memperlambat munculnta suatu elemen bahasa.
Faktor lingkungan memang penting, tetapi faktor itu hanya memicu apa yang sudah ada pada biologi manusia. Echa, subjek penlitian Dardjowidjojo (2000), beberapa kali di pancing mengeluarkan bunyi /j/ dan /r/ dalam bahasa Indonesia, Tetapi juga tetap saja tidak dapat mengeluarkan kedua bunyi itu sampai keadaan biologisnya memungkinkannya.



BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
Penelitian para ahli purbakala menunjukkan bahwa kehidupan di dunia dimulai dari 3.000 juta tahun yang lalu (Wind 1989) dalam bentuk organisme dan uniseluler. 350 juta tahun kemudian berkembanglah makhluk semacam ikan, yakni Agnatha, tang tak berahang.  50 juta tahun kemudian muncullah makhluk pemula dari amfibi yang tidak harus selamanya tinggal di air. Pada sekitar 70 juta tahun lalu muncullah makhluk mamalia yang pertama. Pertumbuhan biologis lainnya mulainya muncul. Alat pendengaran pun mulai berkembang. Alat ujar yang sudah ada seperti ini membuat mamalia (monyet, kambing, dsb) dapat mengeluarkan bunyi. Perkembangan biologis lainnya yang terkait adalah adanya perubahan perkembangan otot-otot pada muka, tumbuhnya gigi, dan makin naiknya letak laring yang memungkinkan makhluk untuk bernafas sambil makan dan minum Perkembangan terakhir adalah para primat manusia.
Bahwa primat paling dekat dengan manusia adalah sebangsa gorila dan simpanse. Kemiripan yang kita rasakan kalau kita pergi ke kebun binatang dan memperhatikan perilaku binatang-binatang itu – cara mereka makan kacang, cara mereka mengupas pisang, cara mereka mencari kutu, dan beberapa perilaku yang lain.
Disamping struktur mulut manusia yang secara biologis berbeda dengan struktur mulut binatang, bahasa juga terkait dengan biologi dari segi lain. Hal ini tampak pada proses pemerolehan bahasa.







DAFTAR PUSTAKA
Dardjowidjojo Suenjono, 2012, Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta. Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Mansoer Pateda. Aspek-Aspek Psikolinguistik. (Flores: Nusa Indah, 1990), h. 15-17.

Dardjowidjojo, Soenjono. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003.

No comments:

Post a Comment