BAB III
PEMBAHASAN
LANDASAN BIOLOGIS PADA BAHASA MANUSIA
1.
PERKEMBANGAN
ALAT UJARAN
Kalau ditelusuri perkembangan alat ujaran (speech organs) dari
jaman purbanya akan tampak bahwa manusia memang mempunyai pertumbuhan yang
paling belakang dan sempurna. Penelitian para ahli purbakala menunjukkan bahwa
kehidupan di dunia dimulai dari 3.000 juta tahun yang lalu (Wind 1989) dalam
bentuk organisme dan uniseluler. 350 juta tahun kemudian berkembanglah makhluk
semacam ikan, yakni Agnatha, yang tak berahang. Makhluk ini mempunyai mulut,
taring, dan insang untuk bernafas. 50 juta tahun kemudian muncullah makhluk
pemula dari amfibi yang tidak harus selamanya tinggal di air. Makhluk ini
mempunyai paru-paru. Adanya paru-paru dan laring ini menunjukkan telah
memulainya tumbuh jalur ujaran (vocal tracks) meskipun bunyi yang keluar
barulah desah pernapasan saja. Perkembangan pada amfibi seperti katak telah
memunculkan tulang-tulang arytenoid dan cricoid tetapi jalur tracheanya masih
pendek. Begitu pula lidahnya telah mulai lebih mudah digerakkan.
Ketergantungan pada air menjadi lebih kecil dengan tumbuhnya
reptil. Ada pertumbuhan yang mencolok pada reptil, yakni, rongga rusuk dada
terlibat sangat aktif untuk pernapasan. Satu hal yang masih misterius adalah
bahwa reptil (misalnya buaya) kurang banyak mengeluarkan suara amfibi (misalya
katak). Pada reptil organ yang mengontrol modulasi suara adalah terutama otot
dan alat-alat di laring.
Pada sekitar 70 juta tahun lalu muncullah makhluk mamalia yang pertama.
Pertumbuhan biologis lainnya mulainya muncul. Bentuk awal dari epiglotis telah
mulai tampak, meskipun letaknya simasih sangat dekat dengan mulut dan bagian
atas tenggorokan. Tulang-tulang arytenoid dan cricoid mulai lebih berfungsi.
Evolusi lain yang penting adalah mulai adanya tulang thyroid dan bentuk pertama
dari selaput suara. Karena telah adanya paru-paru dan kemudian ada pula selaput
suara, maka getaran selaput ini dapat mulai dikontrol. Alat pendengaran pun
mulai berkembang. Alat ujar yang sudah ada seperti ini membuat mamalia (monyet,
kambing, dsb) dapat mengeluarkan bunyi.
Perkembangan biologis lainnya yang terkait adalah adanya perubahan
perkembangan otot-otot pada muka, tumbuhnya gigi, dan makin naiknya letak
laring yang memungkinkan makhluk untuk bernafas sambil makan dan minum.
Perkembangan terakhir adalah para primat manusia. Alat-alat
penyuara seperti paru-paru, laring, faring, dan mulut pada dasarnya sama dengan
yang ada pada mamalia lainnya, hanya saja manusia alat-alat initelah lebih
berkembang. Laring pada manusia, misalnya, agak lebih besar daripada luring
pada primat lain. Struktur mulut maupun macam lidahnya juga berbeda. Akan
tetapi perbedaan lain yang lebih penting antara manusia dengan binatang adalah
struktur organisasi otaknya. Seperti dikatakan Wind (1986:192).
......the fact that the apes leave their vocal tract idle cannot be
explained by the track’s inadequancy but reather by a lack of internal,
cerebal, wiring.
Pertumbuhan alat ujaran yang digambarkan oleh Wind pada bagan
berikut

Bagan 1: Perkembangan Alat Ujaran
2.
STRUKTUR
MULUT MANUSIA DAN BINATANG
Dari perkembangan makhluk seperti gambar dalam diagram pohon pada
bagan 2 berikut (Lennneberg 1964:70)

Bagan 2: Skema Evolusi Manusia
Bahwa
primat paling dekat dengan manusia adalah sebangsa gorila dan simpanse.
Kemiripan yang kita rasakan kalau kita pergi ke kebun binatang dan
memperhatikan perilaku binatang-binatang itu – cara mereka makan kacang, cara
mereka mengupas pisang, cara mereka mencari kutu, dan beberapa perilaku yang
lain.
Kelompok
manusia, yang dinamakan homidis atau homidae, itu sendiri juga berevolusi.
Konon yang tertua (Australopithecus ramidus) ditemukan di Afrika dan hidup pada
4,5 juta tahun yang lalu. Sementara itu muncul kelompok manusia pada 3 tahun
yang lalu yang baru menjadi manusia modern (homo sapiens_ sekitar 175.000 tahun
yang lalu. Pertumbuhan bahasa diperkirakan sekitar 100.000 tshun ysng lslu
(Acthison 1996: 52-53). Perhatikan pertumbuhan hominids berikut.

Bagan 3: Pertumbuhan Hominids
Meskipun
ada kemiripan-kemiripan tertentu antara manusia dnegan simpanse, tetap saja
kedua makhluk ini berbeda dan yang membedakan keduanya adalah, antara lain,
kemampuan mereka berkomunikasi dengan bahasa. Perbedaan kemampuan ini sifatnya
genetik, artinya, manusia dapat berbahasa sedangkan primat lain tidak karena
komposisi genetik antara kedua kelompok primat ini berbeda. Hal ini sangat
tampak pada struktur biologis alat suaranya. Perhatikan struktur mulut non
manusia pada bagan 4 berikut (Lieberman 1992: 410-411).

Bagan
4 : Struktur Mulut Non-manusia
Primat non-manusia simpanse lidah
mempunyai ukuran yang tipis dan panjang tetapi semuanya ada di dalam rongga
mulut. Bentuk yang seperti lebih cocok sebagai alat untuk kebutuhan non-vocal
seperti meraba, menjilat, dan menelan mangsa. Secara komparatif, ruang lidah
dengan ukuran mulut juga sempi sehingga tidak banyak ruang untuk menggerakkan
lidah ke atas, ke bawah, ke depan, dan ke belakang. Ruang gerak yang sangat
terbatas ini tidak memungkinkan binatang untuk memodofokasi arus udara menjadi
bunyi yang berbeda-beda dengan distingtif. Berbeda dengan manusia, laring pada
binatang seperti simpanse terletak dekat dengan jalur udara ke hidung sehingga
waktu bernafas laring tadi terdorong ke atas dan menutup lubang udara ke yang
ke hidung. Epiglotis dan velum pada binatang juga membentu kelep yang kedap air
sehingga binatang dapat bernafas dan minum serta makan secara simultan.
Kalau
kita perhatikan bentuk dan letak gigi pada primat non-manusia akan kita dapati
bahwa gigi binatang merupakan deretan yang terputus-putus, ukuran panjangnya
tidak sama, dan letaknya miring ke depan (Aitchison 1998: 48-49). Letak seperti
ini tidak memungkinkan untuk gigi atas dan gigi bawah bertemu. Bentuk, letak,
dan pengaturan seperti ini memang dicanangkan untuk kebutuhan primer primat
itu, yakni mencari makan. Bibir pada binatang juga tidak fleksibel sehingga
tidak bisa diatur untuk dipertemukan atau dilencengkan untuk menghasilkan bunyi
atau suara yang berbeda.
Karakteristik
seperti yang digambarkan di atas berbeda dengan karakteristik pada manusia.
Secara proporsional rongga mulut manusia adalah lebih kecil. Ukuran ini membuat
manusia dapat lebih mudah mengaturnya. Lidah manusia yang secara manusia
proporsiaonal lebih tebal daripada lidah binatang dan menjorok sedikit ke
tenggorokan memumgkinkan untuk digerakkan secara fleksibel sehingga bisa
dinaikkan, dimundurkan, dimajukan, dimundurkan atau siratakan di tengah. Posisi
yang bermacam-macam ini menghasilkan bunyi yang bermacam-macam pula, dari yang
paling depan tinggi /i/ sampai ke yang paling belakang tinggi /u/, dan dari
yang paling rendah depan /ᴂ/ ke yang
paling rendah belakang /a/. Belum lagi kontak antara lidah dengan titik
artikulasi tertentu akan menghasilkan pula bunyi konsonan yang berbeda-beda,
dari yang paling depan /p/-/b/ sampai ke yang paling belakang /k/-/g/.
Karena
adanya perluasan rongga otak dalam pertumbuhan manusia maka letak laring maupun
epiglotis manusia semacam “terdorong” ke bawah sehingga letaknya jauh dari mulut
(Ciani dan Chiarelli 1992: 51-65) bila di bandingkan dengan yang ada

pada binatang. Di satu pihak, letak seperti ini memang memunculkan
bahaya karena makanan yang masuk akan dengan mudah kesasar ke laring yang
menuju ke paru-paru sehingga orang lalu bisa tersedak (choked). Akan tetapi,
dari segi pembuatan suara posisi laring yang seperti ini sangat menguntungkan.
Ruang yang lebih besar dan lebih panjang pada tenggorokan dapat memberikan
resonasi yang lebih baik dan lebih banyak.
Epiglotis yang
letaknya jauh dari mulut dan velum membuat manusia dapat menghembuskan udara
melewati mulut maupun hidung. Velum dapat digerakkan secara terpisah untuk
menempel pada dinding tenggorokan sehingga udara akan terpecah keluar melalui
hidung dan terciptalah bunyi oral. Sebaliknya, bila bunyi yang kita kehendaki
adalah binyi nasal, velum ini tidak akan bersentuhan dengan dinding
tenggorokkan sehingga udara dengan bebas dapat keluar melalui hidung.
Gigi manusia yang jaraknya rapat, tingginya rata, dan tidak miring
ke depan membuat udara yang keluar dari mulut lebih dapat diatur. Begitu pula
bibir manusia lebih dapat digerakkan dengan fleksibel. Bibir atas bertemu
dengan bibir bawah akan menghasilkan bunyi tertentu, /m/, /p/, /b/, tetapi bila
bibir bawah agak ditarik ke belakang dan menempel pada ujung gigi atas akan
terciptalah bunyi lain, /f/, dan /v/.
Disamping struktur mulut, paru-paru juga dengan mudah menyesuaikan
diri dengan kebutuhan. Perbapasan kita waktu berbicara, waktu diam, dan waktu
menyanyi tidaklah sama. Pada waktu bicara, kita menarik napas yang panjang
sehingga paru-paru menjadi besar. Udara yang kita hembuskan keluar sekaligus,
tetapi secara bertahap sesuai dengan kebutuhan. Karena itu kita dapat berbicara
berjam-jam, tapi kita tidak bisa berada di dalam air lebih lama dari pada lima
menit.
Dengan singkat dapat dikatakan bahwa dari segi biologi alat
pernapasan, manusia memang di takdirkan untuk menjadi primat yang dapat
berbicara.
3.
KAITAN
BIOLOGI DENGAN BAHASA
Disamping struktur mulut manusia yang secara biologis berbeda
dengan struktur mulut binatang, bahasa juga terkait dengan biologi dari segi
lain. Hal ini tampak pada proses pemerolehan bahasa.
Dimanapun juga di
dunia ini, anak memperoleh bahasa dnegan melalui proses yang sama. Antara umur
6 sampai 8 minggu, anak mulai mendekut (cooing), yakni mereka mengeluarkan
bunyi-bunyi yang menyerupai bunyi vocal dan konsonan. Bunyi-bunyi ini belum
dapat diidentifikasi sebagai bunyi apa, tetapi sudah merupakan bunyi. Pada
sekitar umur 6 bulan mulailah anak dengan celoteh (babbling), yakni,
mengeluarkan bunyi yang berupa sukukata. Pada umur sekitar 1 tahun, anak mulai
mengeluarkan bunyi yang dapat diidentifikasi sebagai kata. Untuk bahasa yang
kebanyakan monomorfemik (bersukukata satu) maka suku itu, atau sebagian dari
suku, mulai diujarkan. Untuk bahasa yang kebanyakan polimorfemik, maka suku
akhirlah yang diucapkan. Itu pun belum tentu lengkap. Untuk kata ikan,
misalnya, anak akan mengatakan /tan/ (lihat Dardjowidjojo 2000). Kemudian anak
akan mulai berujar dengan ujaran satu kata (one word utterance), lalu menjelang
umur 2 tahun mulailah dengan ujaran 2 kata (two word utterance). Akhirnya,
sekitar umur 4-5 tahun anak akan telah dapat berkomunikasi dengan lancar.
Untuk 18 bulan pertama, Lenneberg (1969: 13) memberikan patokan
seperti terlihat pada bagan 6 berikut ini, dimana digambarkan keterkaitan antaa
perkembangan biologi manusia dengan bahasa yang diperolehnya.


Bagan 6: Kaitan Pertumbuhan Biologi dan Bahasa
Patokan minggu,
bulan, dan tahun seperti di gambarkan di atas haruslah di anggap relatif karena
faktoro biologi pada manusia itu tidak semuanya sama. Yang penting dari patokan
itu adalah bahwa urutan pemerolehan pada anak itu sama: dari dekutan,
kecelotehan, ke ujaran satu kata, kemudian ke ujaran dua kata dan seterusnya.
Begitu juga dalam hal komprehensi dan produksi. Anak dimanapun dan dalam bahasa
apapun menguasai komprehensi daripada produksi.
Manusia menguasai bahasa secara natif hanya kalau prosesnya
dilakukan antara umut tertentu, yakni. Antara umur 2 sampai sekitar 12 tahun.
Di atas umur 12 tahun, orang tidak akan dapat menguasai aksen bahasa tersebut
dengan sempurna.
Dengan fakta-fakta seperti di paparkan di atas, maka pandangan masa
kini mengenai bahasa menyatakan bahwa bahasa adalah fenomena biologis,
khususnya fenomena biologi perkembangan. Arah dan jadwal munculnya suatu elemen
dalam bahasa adalah masalah genetik. Orang tidak dapat mempercepat atau
memperlambat munculnta suatu elemen bahasa.
Faktor lingkungan memang penting, tetapi faktor itu hanya memicu
apa yang sudah ada pada biologi manusia. Echa, subjek penlitian Dardjowidjojo
(2000), beberapa kali di pancing mengeluarkan bunyi /j/ dan /r/ dalam bahasa
Indonesia, Tetapi juga tetap saja tidak dapat mengeluarkan kedua bunyi itu
sampai keadaan biologisnya memungkinkannya.
BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
Penelitian para ahli purbakala menunjukkan bahwa kehidupan di dunia
dimulai dari 3.000 juta tahun yang lalu (Wind 1989) dalam bentuk organisme dan
uniseluler. 350 juta tahun kemudian berkembanglah makhluk semacam ikan, yakni
Agnatha, tang tak berahang. 50 juta tahun kemudian muncullah makhluk pemula dari amfibi yang
tidak harus selamanya tinggal di air. Pada
sekitar 70 juta tahun lalu muncullah makhluk mamalia yang pertama. Pertumbuhan
biologis lainnya mulainya muncul. Alat
pendengaran pun mulai berkembang. Alat ujar yang sudah ada seperti ini membuat
mamalia (monyet, kambing, dsb) dapat mengeluarkan bunyi. Perkembangan biologis lainnya yang terkait adalah adanya perubahan
perkembangan otot-otot pada muka, tumbuhnya gigi, dan makin naiknya letak
laring yang memungkinkan makhluk untuk bernafas sambil makan dan minum Perkembangan terakhir adalah para primat manusia.
Bahwa
primat paling dekat dengan manusia adalah sebangsa gorila dan simpanse. Kemiripan
yang kita rasakan kalau kita pergi ke kebun binatang dan memperhatikan perilaku
binatang-binatang itu – cara mereka makan kacang, cara mereka mengupas pisang,
cara mereka mencari kutu, dan beberapa perilaku yang lain.
Disamping struktur mulut manusia yang secara biologis berbeda
dengan struktur mulut binatang, bahasa juga terkait dengan biologi dari segi
lain. Hal ini tampak pada proses pemerolehan bahasa.
DAFTAR PUSTAKA
Dardjowidjojo Suenjono, 2012, Psikolinguistik Pengantar
Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta. Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Mansoer Pateda. Aspek-Aspek Psikolinguistik. (Flores:
Nusa Indah, 1990), h. 15-17.
Dardjowidjojo, Soenjono. Psikolinguistik: Pengantar
Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003.
No comments:
Post a Comment